Training Mahasiswa

<p>Training Mahasiswa</p>

Training for Trainer

<p>Training for trainer</p>

Siaran Psikologi UP45 Dengan Tema “Pemuliaan Sampah Dalam Kehidupan Sehari-hari”

<div style="text-align: justify;"><strong>Sampah</strong> adalah <strong>sampah</strong> atau barang yang sudah tidak berguna lagi. Bila tidak berguna lagi, maka <strong>sampah</strong> harus dimusnahkan. Hal ini karena sampah yang tidak dimusnahkan berarti akan membebani lingkungan. Lingkungan menjadi terlalu banyak barang yang tidak terpakai. Jelaslah, kesehatan mental menjadi taruhannya. Cobalah bayangkan bila kita hidup dalam rumah yang mana dalam rumah tersebut banyak barang yang tidak terpakai. Kita akan menjadi penghuni rumah yang akan diperbudak oleh barang-barang yang tidak berguna. Itulah persepsi dari banyak orang, bahwa <strong>sampah</strong> adalah barang yang harus dimusnahkan.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div>
<div style="text-align: justify;">Apakah benar sampah adalah barang yang harus dimusnahkan? Apakah tidak bisa <strong>sampah</strong> didaur ulang menjadi barang yang berharga? Pandangan baru, sampah hendaknya bisa diubah menjadi emas. Ini adalah kegiatan pemuliaan sampah. Pemuliaan <strong>sampah</strong> berarti mendaur ulang <strong>sampah</strong> menjadi barang-barang yang berdaya jual tinggi. Bahkan kini kecenderungan barang-barang ekspor harus memperhatikan masalah <strong>sampah</strong> ini, sehingga barang-barangnya harus diberi label <em>eco-labeling</em>. <em>Eco-labeling</em> berarti proses produksinya ramah lingkungan, dan limbahnya tidak mengotori lingkungan atau bahkan tidak ada limbah sama sekali (<em>zero waste</em>).</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Pemuliaan <strong>sampah</strong> itu, sayangnya, jarang dipikirkan orang, meskipun pengerjaannya sebetulnya sederhana. Konsep pemuliaan <strong>sampah</strong> mengandung perilaku-perilaku unggul seperti tekun, kreatif, dan adanya keinginan untuk memberi nilai tambah pada barang-barang yang diciptakan. Pengerjaan pemuliaan <strong>sampah</strong> dalam kehidupan sehari-hari, dilakukan dengan cara memilah-milah <strong>sampah</strong> berdasarkan jenisnya. Kegiatan ini sangat gampang tetapi menjengkelkan, menghabiskan waktu, dan tidak bergengsi.</div>

<div>
<div style="text-align: justify;">Sebagai contoh adalah kantung plastik putih bening yang baru saja digunakan untuk membungkus sambal. Akan sangat mudah bila kantung yang masih kotor itu kemudian langsung dibuang di tempat sampah. Kegiatan pemuliaan sampah, sebaliknya, justru mendorong orang-orang untuk mencuci kantung plastik itu sampai bersih dan tidak berbau. Langkah berikutnya adalah, menjemur kantung plastik itu sampai kering, mencampurkan dengan plastik-plastik lainnya yang sama warnanya, menyimpannya sampai jumlahnya banyak, dan menyetorkan pada <strong>Bank Sampah. Bank Sampah</strong> selanjutnya akan mendaur ulang dalam skala besar untuk daerah yang lebih luas.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Mengapa kegiatan pemuliaan sampah penting bagi lingkungan sehari? Pemuliaan <strong>sampah</strong> penting karena ternyata tidak semua sampah bisa musnah. Plastik yang kita pakai sehari-hari, ternyata membutuhkan waktu sampai puluhan tahun untuk terurai di tanah. Padahal setiap manusia ternyata mengkonsumsi plastik sangat banyak. Bila perilaku mengkonsumsi plastik ini tidak segera diatasi maka dunia ini akan dipenuhi oleh sampah plastik. Apakah pemusnahan plastik bisa dilakukan dengan cara dibakar? Plastik yang dibakar akan menghasilkan gas metana yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, sehingga membakar <strong>sampah</strong> hendaknya dihindarkan.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Kesadaran tentang pemuliaan <strong>sampah</strong> ini harus dibangun mulai dari tingkat keluarga. Keluarga yang gigih memuliakan <strong>sampah</strong> akan menularkan kepada tetangganya dengan cara-cara sederhana. Tetangga-tetangga yang sudah mampu memuliakan <strong>sampah</strong>, mungkin saja akan membentuk suatu <strong>Bank Sampah</strong> yang dikelola oleh warga sendiri. Cara-cara sederhana semacam ini ternyata dapat menjadi bekal bagi perlombaan kampung hijau yang dimotori oleh propinsi atau perusahaan yang peduli mellaui program CSR (<em>Corporate Social Responsibility</em>).</div>

<div>
<div style="text-align: center;"><a href="https://4.bp.blogspot.com/-DH7iZ9TVVcg/VvYDxTeqW-I/AAAAAAAAAck/SUiPmaLW-U8Y0I7M9Of8kBuFV09kV-I7w/s1600/RRI%2BdgSri2%2B22maret.jpg"><img src="https://4.bp.blogspot.com/-DH7iZ9TVVcg/VvYDxTeqW-I/AAAAAAAAAck/SUiPmaLW-U8Y0I7M9Of8kBuFV09kV-I7w/s320/RRI%2BdgSri2%2B22maret.jpg" style="height:240px; width:320px" /></a></div>

<div style="text-align: justify;">Pemuliaan sampah dalam kehidupan sehari-hari ini adalah topik siaran di <strong>RRI</strong> yang ke-149, dan terlaksana pada 23 Maret 2016, pukul 20.15-21.00. Siaran ini dapat berlangsung berkat adanya kerjasama antara <strong>RRI</strong> dengan <strong>Fakultas Psikologi UP45</strong>. Nama program siaran ini adalah Forum Dialog, dan dilakukan secara interaktif. Narasumber siaran kali ini adalah Bapak FX. Wahyu Widiantoro, S.Psi. (dosen Fak. Psikologi UP45), Ibu Norita (marketing UP45), Ibu Rini (pelaku sedekah sampah dari Kab. Bantul), dan Sri Mulyani (mahasiswa Psikologi UP45). Siaran di <strong>RRI</strong> ini juga ada hal yang menarik yaitu quiz. Pemenang quiz kali ini adalah Ibu Suwartini, alamatnya Jalan Ngabeanwetan Gang Lawu No. 24 Sinduarjo Ngaglik Sleman, Yogyakarta.</div>

<div>
<div style="text-align: center;"><a href="https://3.bp.blogspot.com/-55y650pU5dA/VvYEVfQhGOI/AAAAAAAAAco/er6s40jQEPADr0bAiRFRGadYFS9nxLxBg/s1600/Blog68UP%2BBanksampah1.jpg"><img src="https://3.bp.blogspot.com/-55y650pU5dA/VvYEVfQhGOI/AAAAAAAAAco/er6s40jQEPADr0bAiRFRGadYFS9nxLxBg/s320/Blog68UP%2BBanksampah1.jpg" style="height:240px; width:320px" /></a></div>

<div style="text-align: justify;">Mengapa siaran kali ini melibatkan mahasiswa Sri Mulyani? Ia adalah mahasiswa yang akan mendapatkan gelar pelopor kegiatan pemuliaan <strong>sampah</strong> tingkat universitas. Kegiatannya sebagai nasabah paling rajin di <strong>Bank Sampah</strong> Kauman Yogyakarta dan mengajak teman serta tetangganya untuk juga memuliakan <strong>sampah</strong> adalah kiatnya untuk menaikkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengelola sampah diri sendiri. Prinsip Sri Mulyani adalah segala perubahan ke arah yang lebih baik &ndash; seperti memuliakan sampah – memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.</div>
</div>
</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>
</div>
</div>

Belajar Berkonsentrasi Dalam Bekerja Melalui Kegiatan Psikologi Berbagi

<div style="text-align: justify;">Berkonsentrasi dalam bekerja adalah bekerja dengan serius dan memusatkan perhatian agar pekerjaan / tugas-tugas yang dihadapinya segera selesai dengan kualitas yang optimal. Berkonsentrasi ini sangat membutuhkan kemauan yang keras, motivasi tinggi, serta kegigihan demi terselesaikannya tugas-tugas yang telah direncanakan.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Apa saja persoalan-persoalan yang relevan dengan konsentrasi <strong>kerja</strong>? Bila dirunut tentu banyak persoalan tentang konsentrasi kerja, karena hal itu memang sulit dilakukan. Apalagi bila bekerja dan menunaikan tugas itu dilakukan secara berkelompok. Hal ini berarti individu bekerja dalam suasana ramai dan berkelompok, sehingga setiap orang saling bergantung pada terselesaikannya tugas masing-masing. Bila ada satu saja anggota tim kurang mampu berkonsentrasi, maka tugas kelompok akan rendah mutunya. Bahkan tidak jarang organisasi harus mulai lagi dari awal, demi terpuaskannya tuntutan pelanggan.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Bagaimana cara belajar berkonsentrasi <strong>kerja</strong> dalam sebuah tim? Cara pertama yang dilatihkan pada para peserta pelatihan Psikologi Berbagi kali ini adalah mengenali identitas rekan kerja / peserta pelatihan. Peserta diarahkan untuk mengenal lebih mendalam tentang sesama peserta pelatihan. Hal-hal yang ditanyakan antara lain warna kesukaan dan hobi, serta tentu saja nama dan tempat kerja. Stimulus yang digunakan adalah permen. Kegiatannya sangat sederhana, namun tidak mudah melakukannya. Hal ini karena kita kurang kreatif dalam bertanya, dan malas / tidak terbiasa berpindah-pindah tempat untuk sekedar berinteraksi sosial. Kita lebih terbiasa berinteraksi dnegan teman di sebalah kiri dan kanan kita saja. Berkat metode permen ini, maka para peserta menjadi saling mengenal, sehingga suasana menjadi lebih akrab.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div>
<div style="text-align: justify;">Cara kedua untuk berlatih konsentrasi <strong>kerja</strong> adalah belajar berhitung. Metodenya disebut <em>the seven up</em>. Dalam simulasi ini peserta diminta untuk menghitung angka-angka sesuai dengan urutan berdirinya. Bila menjumpai angka 7 atau angka kelipatan 7 maka hitungannya dibalik. Dalam metode ini peserta didorong untuk benar-benar menyimak perkataan teman, tidak saling menyalahkan bila teman salah dalam berhitung, dan kreatif dalam membuat strategi.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Pelatihan Konsentrasi Kerja ini adalah salah satu materi dari Program <strong>Psikologi Berbagi</strong>. Program tersebut adalah salah satu andalan <strong>Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta</strong>. Program ini sudah menginjak seri ke-3, namun sudah berlangsung selama 7 kali. Program ini inovatif, karena mampu mengajak peserta / anggota masyarakat untuk datang berkunjung ke kampus <strong>UP45</strong>. Anggota masyarakat yang datang adalah calon peserta yang diperkirakan tertarik untuk menjadi mahasiswa <strong>Fakultas Psikologi UP45</strong>.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div>
<div style="text-align: justify;">Pada umumnya, metode yang biasa dilakukan oleh tim marketing UP45 adalah <em>road show</em> atau mendatangi calon mahasiswa. Jadi calon mahasiswa belum mengenal kampus UP45 dan seisinya. Pada program <strong>Psikologi Berbagi</strong> ini, calon mahasiswa diperkenalkan dengan kampus dan seisinya. Diharapkan, mereka akan lebih mantap dalam memilih jurusan Psikologi di UP45.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Penyajian Program <strong>Psikologi Berbagi</strong> ke-7 ini terasa istimewa karena empat hal:</div>

<ol>
<li style="text-align: justify;">Hadirnya Ibu Norita, sebagai salah satu konsultan marketing UP45. Beliau pintar menyajikan quiz menarik sehingga peserta berlomba-lomba menjawabnya. Quiz itu juga ada hadiahnya yaitu 2 buku tenang psikologi. Belai sangat luwes dalam membawakan quiz.</li>
<li style="text-align: justify;">Hadirnya bapak Andri Azis, sebaga salah satu trainer. Beliau menyajikan simulasi permen dengan sangat menarik, sehingga peserta menjadi panik, dan akhirnya bersedia berinteraksi sosial. Bila tidak ada simulai permen, maka peserta hanya berinteraksi sosial dengan peserta sebelah kiri atau kanannya saja.</li>
<li style="text-align: justify;">Terlibatnya 2 mahasiswa Fakultas Psikologi UP45 yang keren yaitu Sri Mulyani dan Tri Welas Asih. Mereka berdua merancang sertifikat yang menarik dan tnetu saja snack yang lezat.</li>
<li style="text-align: justify;">Jumlah peserta mencapai 32 orang. Itu adalah jumlah yang terlalu banyak untuk suatu pelatihan. Bapak Wahyu Widiantoro sebagai manajer program, telah bersusah-payah menolak peserta, namun mereka ngotot ingin menghadiri pelatihan pada hari Sabtu 12 Maret 2016. Mereka khawatir pada waktu-waktu yang akan datang mereka justru berhalangan hadir. Terselenggaranya pelatihan ini dengan sukses berkat tangan dingin Pak Wahyu dalam mengelola berbagai acara.</li>
</ol>

<p style="text-align: justify;">Apa harapan kita semua untuk program <strong>Psikologi Berbagi</strong> pada masa depan? Sangat diharapkan program Psikologi Berbagi mampu mengadakan pelatihan-pelatihan berikutnya, dan tentu saja dengan peserta yang semakin bervariasi</p>
</div>
</div>

Metode Belajar Yang Membumi Pada Psikologi Lingkungan

<p style="text-align:justify">Menyuruh mahasiswa mempraktekkan ilmu yang diterima di bangku kuliah dalam kehidupan sehari-har, ternyata tidak gampang. Hambatannya antara lain mahasiswa merasa belum lulus S1 sehingga mereka merasa belum perlu mempraktekkan ilmu dalam perilaku sehari-hari. Hambatan yang lain adalah malas, tidak memahami pengetahuan yang diterimanya namun malu bertanya, tidak percaya diri, dan tidak membutuhkannya. Mengapa mahasiswa tidak membutuhkan praktek ketrampilan / pengetahuan? Mahasiswa lebih membutuhkan nilai daripada terampil dan berpengetahuan luas dalam bidang psikologi. Hal ini bisa dibuktikan ketika mahasiswa mendapatkan nilai C atau D, maka responnya adalah menyalahkan dosen. Mahasiswa merasa ia harus mendapatkan nilai A untuk semua pelajaran.</p>

<p style="text-align:justify">Bila semua mahasiswa pada semua pelajaran ingin mendapatkan nilai A, maka ada dua kemungkinannya. Pertama, dosennya bodoh, takut pada mahasiswa dan tidak bekerja dengan benar (misalnya memeriksa hasil ujian mahasiswanya) sehingga semua mahasiswa mendapat nilai A. Kemungkinan kedua, kurikulum atau materi pelajarannya sangat mudah sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Sebagai contoh, bila mahasiswa diberi pelajaran matematika sederhana, pasti semuanya mampu mengerjakan dengan benar. Tidak bisa dibedakan antara mahasiswa pandai dan yang bodoh. Situasi yang ada pada dosen ini membuat mahasiswa juga malas untuk mempraktekkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah.</p>

<p style="text-align:justify">Hal sebaliknya, bila pada kenyataannya mayoritas mahasiswa mendapat nilai C atau D, maka hal itu juga menghambat mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa merasa penerapan ilmu tidak ada gunanya, dan mungkin juga merasa dendam pada dosennya. Mahasiswa merasa sudah mematuhi semua instruksi dosennya yaitu rajin masuk kuliah, mengerjakan tugas tepat waktu, mengerjakan ujian sebaik-baiknya, tidak mencontek, namun nilainya tetap saja C atau D. Dosen dituduh sebagai subjektif dalam memberikan nilai. Hanya mahasiswa tertentu saja yang mendapatkan nilai A atau B. Jadi untuk apa mempraktekkan psikologi dalam kehidupan sehari-hari?</p>

<div style="text-align:justify">Hambatan-hambatan penerapan praktis <strong>psikologi</strong> dalam kehidupan sehari-hari yang datang baik dari mahasiswa, dosen, atau kurikulumnya, jelas-jelas akan merugikan mahasiswa. Ketika lulus kelak, para alumni akan kebingungan menentukan apa saja yang akan dilakukannya. Mereka tidak tahu cara-cara menjadi karyawan yang baik, selain hanya datang tepat waktu, senyum-senyum pada rekan kerja, dan sedihnya, hanya menunggu perintah saja dari atasan. Semua itu tidak ada yang keliru, hanya perilaku-perilaku tersebut sangat kurang bagi para alumni <strong>Psikologi UP45</strong> yang kini mendapat gelar sebagai generasi Y (orang-orang yang lahir sekitar tahun 1990an-2000an). Orang-orang yang bergen Y, dituntut untuk kreatif, <em>multi tasking</em> (mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus), dan sangat <em>literate</em> dengan alat-alat komunikasi mutakhir.</div>

<div style="text-align:justify">&nbsp;</div>

<div style="text-align:justify">Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, maka materi pelajaran Psikologi Lingkungan di <strong>Fakultas Psikologi UP45</strong> disusun lebih membumi. Tujuannya adalah mahasiswa menjadi lebih menghayati tentang perilaku peduli pada lingkungan. Apa saja kongkritnya metode yang membumi itu? Singkatnya, mahasiswa yang mengikuti pelajaran <strong>Psikologi Lingkungan</strong> harus menjadi nasabah <strong>Bank Sampah</strong> yang lokasinya di mana saja di Yogyakarta. Instruksinya sudah sangat jelas, namun kenyataannya masih banyak mahasiswa yang tidak tahu lokasi <strong>Bank Sampah</strong> di Yogyakarta. Akhirnya, setelah berburu informasi, ditemukanlah lokasi <strong>Bank Sampah</strong> di tengah-tengah kota Yogyakarta, yaitu di dekat Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.</div>

<div style="text-align:justify">&nbsp;</div>

<div style="text-align:justify">
<div>Menuju lokasi <strong>Bank Sampah</strong> tersebut, mahasiswa masih harus didampingi dosen. Ini karena mereka masih bingung bila berkenalan dengan warga pengelola <strong>Bank Sampah</strong> yang usianya jauh lebih tua daripada mahasiswa. Selain itu, pada umumnya mahasiswa berasal dari luar Yogyakarta sehingga mereka tidak mengetahui denah kota Yogyakarta. Lelucon satire untuk mahasiswa pendatang ini adalah mahasiswa jenis kupu-kupu atau kuliah pulang, kuliah pulang. Mereka hanya bisa berangkat kuliah dari tempat pondokan kemudian pulang. Begitulah ritme sehari-hari para mahasiswa.</div>

<div>&nbsp;</div>

<div>Adanya keharusan menjadi nasabah <strong>Bank Sampah</strong> ini menjadikan mahasiswa <strong>Fakultas Psikologi UP45</strong> menjadi lebih mengenal kota Yogyakarta, terampil berinteraksi dengan ibu-ibu pengelola <strong>Bank Sampah</strong>, dan yang penting perilakunya menjadi lebih peduli pada lingkungan. Diharapkan kelak ketika sudah menjadi alumni, maka mereka menjadi figur teladan di tempat kerjanya dan juga menjadi generasi Y yang dibanggakan oleh alma maternya, <strong>Fakultas Psikologi UP45.</strong></div>

<div>&nbsp;</div>

<div>Dari hasil kunjungan perdana ke <strong>Bank Sampah</strong> di Kauman Yogyakarta pada 18 Maret 2016 yang lalu, sekitar 20 mahasiswa berhasil menjadi nasabah. Tidak ketinggalan dosennya juga ikut menjadi nasabah, yaitu Ibu Dewi Handayani Harahap, S.Psi., Bapak FX. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA. Dan Ibu Dra. Muslimah Z. Romas, M.Si. Para dosen ini diharapkan menjadi suri tauladan bagi para mahasiswanya untuk peduli pada lingkungan hidup.</div>
</div>

Hubungan Antara Olahraga dan Pendidikan Karakter

<div style="text-align: justify;">Partisipasi dalam kegiatan olah raga secara rutin, sangatlah penting baik bagi kebugaran maupun pembentukan <strong>karakter</strong>. Untuk tujuan kebugaran, tentu kegiatan olah raga harus dilakukan secara rutin. Kira-kira seminggu tiga kali @ 1 jam. Berdasarkan pengalaman, kalau kita mampu secara rutin berolah raga seminggu 3 kali, maka badan kita terasa segar. Ini penting terutama untuk orang-orang yang terlalu banyak duduk didepan komputer.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div>
<div style="text-align: justify;">Bagaimana dengan pendidikan <strong>karakter</strong>? Olahraga jelas erat hubungannya dengan <strong>karakter</strong>, terutama untuk keperluan kompetisi. Kalau ada kompetisi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Kalau mengalami kekalahan namun terus berolah raga secara rutin, maka hal itu menunjukkan bahwa individu pantang menyerah. Individu memandang kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Melakukan latihan fisik terus setelah mengalami kekalahan, bukan merupakan keputusan yang mudah. Hal ini karena kekalahan adalah menyakitkan. Apalagi bila individu melakukan latihan yang sangat berat sebagai bekal kompetisi, maka ia akan merasa impiannya terbuang sia-sia.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>

<div style="text-align: justify;">Betulkah kekalahan dalam olah raga kompetisi itu membuat individu malas untuk mengulangi latihan? Individu bersedia melakukan latihan-latihan kembali setelah kekalahan yang dialaminya, menunjukkan bahwa individu mempunyai kualitas mental yang tangguh. Sangat tidak gampang untuk bangkit lagi setelah mengalami kekecewaan yang mendalam. Sangat dibutuhkan motivasi yang kuat, tekad sekeras baja, ketabahan, dan tentu saja impian untuk sukses. Sejatinya, aktif dalam kegiatan olah raga yang sifatnya kompetisi adalah dalam rangka mebangun <strong>karakter </strong>yang hebat dan tangguh. Harapannya, kelak kalau sudah tidak aktif lagi di dunia olah raga, maka kualitas-kualitas <strong>karakter</strong> itu tetap tertanam dan muncul dalam perilaku sehari-hari.</div>

<div style="text-align: justify;">&nbsp;</div>
</div>

<div style="text-align: justify;">Siaran di <strong>RRI</strong> kali ini adalah yang ke-148, semenjak dimulainya siaran di <strong>RRI </strong>pertama kali pada 18 Agustus 2012. Siaran di <strong>RRI</strong> ini dapat berlangsung dengan lancar berkat Nota Kesepemahaman antara <strong>RRI</strong> dan <strong>Fakultas Psikologi UP45</strong>, yang ditandatangani oleh Dra. Muslimah Zahro Romas, M.Si, selaku dekan. Nota Kesepemahaman itu disahkan pada 18 Agustus 2012. Perjanjian kerjasama itu berlangsung selama lima tahun yaitu sampai dengan Agustus 2017. Siaran ke-148 ini berlangsung pada 16 Maret 2016. Nara sumber yang hadir adalah Ibu Norita dari bagian Marketing UP45 dan Ibu Lina dari bagian CDC (Career Develpment Center). Pengelola tetap siaran di RRI adalah dua dosen yaitu FX. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A dan Ibu Dr. Arundati Shinta, M.Si.<br />
<br />
Kerjasama dengan pihak <strong>RRI</strong> ini menuai kesuksesan, karena telah melibatkan 38 mahasiswa dan 21 dosen serta karyawan <strong>UP45</strong>. Mereka bergantian menjadi nara sumber di RRI. Mahasiswa senang dengan acara di <strong>RRI</strong> karena melatih kemampuan <em>public speaking</em> atau berbicara di depan publik, melatih keberanian, dan melatih kreativitas dalam menjawab pertanyaan yang tidak diduga dari pendengar <strong>RRI</strong> di seluruh Indonesia. Selain itu, terlibat dalam siaran di <strong>RRI</strong> melatih mahasiswa untuk membuka-buka kembali pelajaran yang pernah diterimanya. Jadi siaran di <strong>RRI</strong> ini memacu pemahaman psikologi secara konkrit.</div>

Pendidikan Seks Dalam Meningkatkan Pengetahuan Perilaku Seksual Sehat

<p style="text-align: justify;">Pendidikan seksual merupakan suatu upaya mendidik dan mengarahkan perilaku seksual secara baik dan benar. Permasalahannya adalah bagaimana informasi perilaku seks yang sehat dapat dimiliki mahasiswa? Kondisi mengenai banyaknya seks bebas maupun seks di bawah umur diduga antara lain karena mereka kurang memahami perilaku seks yang sehat. Hal ini tentunya berkaitan dengan kurang terbukanya informasi mengenai seks yang benar dan sehat dalam masyarakat, bahkan muncul kecenderungan membiarkan seks dianggap tidak bermoral dan tabu jika dibicarakan secara terbuka.&nbsp;</p>

<p style="text-align: justify;">Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dalam rangka mengawali kegiatan perkuliahan semester genap 2016, menggelar acara dengan judul &rdquo;Pendidikan Seks Dalam Meningkatkan Pengetahuan Perilaku Seksual Sehat&rdquo;. Panitia menghadirkan para tokoh maupun praktisi yang terkait dengan pendidikan seksualitas dan berbicara mengenai permasalahan tersebut yaitu Armunanto sebagai staf UNICEF, Ir. Dian Yudhawati, S.Psi.,M.Si., sebagai Dosen Psikologi UTY, Joko Sutrisno, S.Psi., sebagai staf BKKBN Yogyakarta, Hartosujono, SE.,S.Psi.,M.Si sebagai Dosen UST dan DR. Arundati Sinta, S.Psi.,M.A., berperan sebagai moderator. Kegiatan yang dihadiri oleh 200 peserta terdiri dari kalangan mahasiswa, guru, pekerja sosial dan praktisi yang mendedikasikan diri di dunia pendidikan ini dilaksanakan di Ruang Seminar Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta pada 27 Februari 2016.</p>

<p style="text-align: justify;">Bapak Drs. Jemadi, M.M., selaku Ketua LPPM UP45 dalam kata sambutannya menyatakan bahwa melalui acara yang dilaksanakan oleh Fakultas Psikologi sebagai institusi yang mengemban tanggung jawab Tri Dharma Perguruan Tinggi serta pemikiran yang disampaikan oleh para pembicara diharapkan dapat membantu meningkatkan pengetahuan tentang seks yang sehat pada semua peserta yang hadir di acara dan mahasiswa mampu sebagai pelaku seksual sehat.</p>

<p style="text-align: justify;">Asih sebagai peserta yang berprofesi sebagai guru mengungkapkan bahwa setelah mengikuti acara ini merasa lebih memahami tentang cara mensosialisasikan tentang perilaku seksual sehat dan semakin mendapatkan gambaran tentang cara menghadapi permasalahan perilaku seksual yang sering terjadi.</p>

<p style="text-align: justify;">Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi.,M.A., sebagai dosen fakultas Psikologi UP 45 mengungkapkan bahwa Masalah seksualitas tidak dapat dipandang dari sisi transaksi hubungan fisik. Seksualitas lebih merupakan fenomena multidimensi yang terdiri atas aspek biologi, psikososial, perilaku, klinis, moral, dan budaya maka melalui acara ini mahasiswa terfasilitasi dalam mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan seksual yang baik dan benar.</p>

<p style="text-align: justify;">R. Joko Prambudiyono, sebagai ketua panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselengaranya acara ini, antara lain para sponsor dari BRI, Pertamina PHE ONWJ, TK Khalifah, Isnpira, ECCD-RC, RSKIA Sadewa, Aarminareka Perdana, dll.</p>

Diskusi Terbuka

<p>Hallo teman-teman mahasiswa &amp; civitas akademika jangan lupa hadir yah..!! Acara ini dimulai pukul 12.30 WIB – Selesai.</p>

<p>&nbsp;</p>

Pelantikan Pengurus Gema Proklamasi Periode 2016-2017

<p>Mulai Pukul 08.00 WIB</p>

Batas Akhir Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahap Pra Gelombang

<p>Diumumkan bahwa pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun ajaran 2016 / 2017 Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta akan berakhir pada tanggal 24 April 2016. Silahkan segera mendaftar untuk PMB Online Tahap Pra Gelombang&nbsp; di <a href="http://pmb.up45.ac.id">http://pmb.up45.ac.id</a></p>