Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
The University of Petroleum

Merancang Karir Dan Keluarga Di Dunia Perminyakan

  25 Juli 2016

Bagikan postingan ini

Hidup hanya sekali, kita tidak tau kapan “selesai” maka jangan sia-siakan. Rencanakan dengan menetapkan goal jangka pendek dan goal jangka panjang dan mulailah bertindak. Jatuh-bangun dalam setiap usaha merupakan hal yang wajar. Persimpangan pun selalu ada. Konsistensi merupakan hal penting dalam menjalani kehidupan dan ingatlah kemana kita akan kembali. Demikian sepenggal prakata sarat dengan makna yang diungkapkan oleh Sigit Meliyanto, S.T., alumni Mahasiswa Teknik Perminyakan  Universitas Proklamasi 45, lulus tahun 2013 dengan predikat Cumloude yang kini telah menjabat sebagai ESP. Field Techinician, PT. Powerlift Indonesia, ketika menjadi narasumber pada acara Psikologi Berbagi pada Jumat, 13 Mei 2016.

Acara yang dibuka oleh Ibu  Dewi Handayani H, S.Psi., M.Psi., selaku Wakil Rektor II UP 45 Yogyakarta diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Fakultas yaitu Teknik Perminyakan, Hukum dan Psikologi. “Di dunia industri migas yang saat ini semakin berkembang di Indonesia bahkan di dunia internasional sangat membutuhkan tenaga-tenaga profesional dan Universitas Proklamasi 45 berupaya seoptimal mungkin untuk mempersiapkan para lulusan untuk mampu bersaing hingga mencapai posisi seperti yang kita harapkan bersama”, demikian dijelaskan oleh ibu Dewi. Pentingnya bimbingan karir untuk mahasiswa dicermati oleh fakultas Psikologi sehingga pada acara Psikologi Berbagi kali ini mengangkat tema merancang karir dan keluarga di dunia minyak. “Sharing pengalaman tentang persiapan mencari kerja hingga cara merancang kehidupan berkeluarga dari seorang alumni diharapkan mampu menginspirasi dan memotivsi para mahasiswa, bahwa Universitas Proklamasi 45 benar-benar terbukti mampu mencetak lulusan yang membanggakan”, demikian dijelaskan oleh Wahyu Widiantoro.

Para peserta begitu bersemangat secara bergantian melontarkan beragam pertanyaan tentang dunia karir, cara memotivasi diri hingga meminta saran bagaimana bersikap yang benar ketika menghadapi dilema antara tuntuan berkarir dan kesiapan dalam membangun sebuah keluarga. (W.W)